"KAPATA" TRADISI LISAN
Sejarah Singkat Terbentuknya IPPHAR
Kemudian pada tahun 1965 persekutuan ini menjadi mandek tanpa alasan yang jelas, dan dibentuk lagi perkumpulan yang bernama PERAMA(Persatuan Pemuda Pelajar Mahasiswa) yang dipelopori oleh bapak Arie Noya, bapak Abe Matulessy, bapak Jhon Noya dan bapak Ucu Laisina. Namun seiring dengan berjalannya waktu serta kesibukan-kesibukan yang dialami oleh para pemuda-pemudi Hulaliu ini akhirnya perkumpulan perama ini menjadi mandek. Setelah itu perkumpulan PERAMA ini diaktifkan lagi oleh bapak Nus Tuanakotta, bapak Cas Noya dan kawan-kawan.
Pada tanggal 18 juni 1980 bertempat di rumah bapak Ucu Tuhumury para pemuda pemudi hulaliu ini mengadakan rapat. Dalam rapat tersebut dibentuklah persekutuan tersebut dengan nama iphhar (Ikatan Pemuda Pelajar Haturessy Rakanyawa) dan dipilihlah para pengurus yang baru yang diketuai oleh bapak Cak Noya dengan sekretaris bapak Meky Noya dan bapak Hengki Siahaya sebagai wakil ketua.
Sejak saat itu persekutuan IPPHAR menjadi organisasi kepemudaan yang terorganisir, terkoordinir dan sah dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang resmi.
Berikut ini adalah nama-nama kepengurusan IPPHAR Ambon dari dulu sampai sekarang :
1. Tahun 1980-1988 kepengurusan IPPHAR diketuai oleh bapak Cak Noya dan sekretaris bapak Theo Tuanakotta.
2. Tahun 1988-1992 IPPHAR diketuai oleh Bapak Neles Noya dengan sekretaris bapak Theo Tuanakotta.
3. Tahun 1992-1996 IPPHAR diketuai oleh bapak Phisthos Noya dengan sekretaris bapak Yafri Taihuttu.
4. Tahun 1996-2000 IPPHAR Ambon diketuai oleh bapak Jafri Taihuttu dengan sekretaris bapak Bob Siahaya.
5. Tahun 2000-2008 kepengurusan IPPHAR diketuai oleh bapak Weinand Tuanakotta dengan sekretaris saudari Levie Noya.
6. Tahun 2009-sekarang kepengurusan IPPHAR diketuai oleh saudari Mercy Sahureka dengan sekretaris saudara Yopi Laisina.
demikianlah sejarah singkat persekutuan Ikatan Pemuda Pelajar Haturessy Rakanyawa, dengan mengingat dan selalu menjunjung motto kebesaran kita… Bertekunlah sampai ke akhir………
Nama-nama Petuanan
Aman tawari
Aman huhui
Hutut
Matalepun
Nae
Paristerang
Ritawei
Waitanama
Waielang
Wairia
Yanain
Namuku
Huswei
Haturua
Haturua
Hatramonwei
Hurmau
Waihokal
Pupsei
Tihwa
Waimete
Tirarua
Matalepun
Soria
Elantalai
Rikehe
Suprusu
Waitua
Hatputia
Waihatu
Akun
Salolo
Riha
Samalaloi
Amakabau
Tupa
Lirik "HENA MASA AMI"
Puna isa ama rima hatu haha o…
Au olo ruma e .. eke rumah sigit o…
E paune ite kiberatu ira rolio…
Hena masa ami loto eri alaka o…
Tanita… e tanita e…
Maso-maso soki e tanita…
Kuru e… ume kuru-kuru e..
Kuru rai eke Hurariu…
Wele-wele kuria wele-wele o..
Rai parutu eke Haturessy o..
Noka Rakanyawa o…
Tomanusa
Au Patti Lounusa Haturessy Rakanyawa
Au wala’a terima kasih karena Im panoe iteka
Man kura in nanahu talane
Au patti Lounusa mamese uet huhui Haturessy
Au koe wael tine, ama haturessy alat in mahai selaku
Awano laha anusano he’e upu lanite kabasa
Ya, epuna awan laha anusano wa’a iteka
Ana marua : ………….. (nama perempuan Hulaliu)
Kura In malona : ……… (nama suaminya, bukan berasal dari Hulaliu)
Kura si ana, a yang isi wa’a eke uria si Nusa si amino…
Sebelum lamatai e kakuru poku-poku..
Nau kita lalan salamat ea… wa’a im rumah tangga
Upu lanito ……. Iya papau ite looka….
Au haliut lae he to eya
-Berdoa
-Serahkan air
Sekian terima kasih..\
Kronologis Perang Alaka II
1. Penyerangan Gelombang I, pihak Belanda dipimpin oleh Caan dan Deutekon mendarat di Kabau dengan 8 Kora-kora. Pertempuran terjadi hanya disekitar pantai kabau dan berhasil menduduki daerah territorial kabau
2. Penyerangan gelombang II, ke Kailolo dengan mengerahkan 1016 prajurit terbagi daam 3 kelompok yang dipimpin oleh Major Piere Du Cams. Mereka menyusuri gunung-gunung terjal serta batu-batu karang yang terjal serta berhasil menduduki markas I, II, III di kailolo, dalam pertempuran ini banyak rakyat Kailolo yang menjadi korban serta pembakaran terhadap rumah-rumah rakyat dan meruntuhkan tembok-tembok batu. Sesudah menaklukan kailolo pasukan Belanda kembali mengadakan konsolidasi dan beristirahat semalam di kabau.
3. Penyerangan gelombang III oleh Belanda sudah menuju ke pusat kerajaan Hatuhaha. Pada waktu tu kerajaan Hatuhaha di pimpin Oleh seorang kapitan wanita bernama Monita Latulinya yang mempunyai strategi perang bertahan di lereng-lereng bukit. Mereka menggullingkan batu, kayu batangan dan melempari dengan abu dalam tempurung sehingga pihak Belanda jatuh korban sebanyak 5 orang dan 2 diantaranya tidak dikenal lagi karena hantaman batu dan kayu.
4. Penyerangan gelombang IV oleh Belanda dengan mendatangkan pasukan panah Alifuru sebanyaj 286 orang yang dipimpin oleh Kapitan Sahulau, Sumeit dan Sisiulu. Sedangkan kerajaan Hatuhaha mendapat bantuan dari malisi-malisi yang dipimpin oleh Kapitan Rambatu (seram), kapitan Ririasa (Oma) dan Kapitan Tihulale. Kapitan Tihulale mendatangkan 3 pucuk meriam ke Alaka. Nama ketiga pucuk meriam tersebut adalah Talangkares, Hiriosa dan dangerales, pelurunya dibuat dari buah kelapa yang diisi dengan campuran abu dan bubuk cili / cabe. Kerajaan Ama Hatuhaha mendapat bantuan juga dari Tuhaha sebagai tanda solidaritas pela. Pada tahun 1638 Latu Uli Siwa kapitan Aipassa mengirimkan bantuan malisi-malisi yang diambil dari 7 (tujuh) soa yang ada di Tuhaha dan dipimpin oleh Kapitan Sasabone, Pattipeiluhu dan Polatu, kemudian di susul oleh Latu Uli Siwa kapitan Aipassa, semuanya menuju ke Alaka. Awal pertempuran terjadi setelah Pattikasim bertemu dengan Belanda di Pantai Besi, saat hendak menangkap ikan. Mereka memaksa dia untuk menunjukan jalan menuju Alaka, tetapi dia tidak memberitahu. Kemudian belanda memberi sekarung beras padanya, tetapi karung tersebut telah dilubangi tanpa sepengetahuaannya. Melalui tumpahan beras itulah maka Belanda mengetahui jalan menuju ke pusat kerajaan Alaka. Setelah itu pihak belanda menggunakan jalan ini untuk menyerang kerajaan Alaka, maka terjadilah pertempuran sengit yang banyak memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Kerajaan Alaka dibumihanguskan dan harta berupa porselin dan gong serta 16 kepala manusia dibawa oleh pasukan Alifuru. Pasukan Sisiulu semuanya terbunuh dalam pertempuran tersebut. Dari kerajaan Hatuhaha yang tewas adalah kapitan Rambatu dan beberapa orang yang terlibat dalam peperangan tersebut.
Dari peristiwa tersebut mereka digelar sebagai pahlawan-pahlawan Alaka seperti yang ditulis oleh Dieter Bartels. Peristiwa ini yang menyebabkan semakin kentalnya hubungan Pela antara Tuhaha dan Hatuhaha Amarima, tetapi pada kenyataannya hanya Rohomoni sendiri yang masih menjalaninya.\
Hatuhaha Altua Grade
Bantuan ini terjadi pada tahun 1571 saat Portugis menyerang Alaka. Malesi-malesi pilihan diambil dari 9 soa yang dipimpin oleh kapitan Aipassa, pattilapa dan soumaha yang dalam pertempuran sengit disekitar daerah territorial kabau, kailola, Rohomoni dan jalan-jalan menuju ke Alaka.
Setelah peperangan selesai diadakan konsolidasi oleh kapitan-kapitan Tuhaha, hasil tersebut menyatakan bahwa malesi-malesi yang mewakili Soa Soapake dan Amahutai dinyatakan tewas seluruhnya dalam pertempuran tersebut. Sampai saat hanya terdapat marga-marga yang gugur dalam pertempuran di maksud antara lain Sipalasi, Tulhandatul, Nustan, Matahelumual, Mataheloya, Makitabessy, Pakalesja, Latuhenawakan, Tomulya, Tehupatawa, Halatua, Nanuasa, Tehuwanan, Peilekenon, kesaulya dan Onasaa, bersama 14 marga lain yang sampai saat ini belum terungkap. Semua malesi-malesi dari Tuhaha dikuburkan pada suatu tempat khusus yang namanya Ama hatuhaha Tuhaha di Alaka. Dengan terjadinya peristiwa itu maka Hatuhaha Amarima mengangkat sumpah dengan Tuhaha sebagai “Orang Basudara” yang kemudian diabadikan sebagai Pela Darah atau Batu Karang.
SEJARAH PERANG ALAKA
Di salin sesuai buku Aslinya dan diposting Oleh :Gusmon Sahureka
Pada waktu dulu kala, zaman datuk-datuk sebelum bangsa barat menguasai kepulauan nusantara khusunya daerah Maluku, maka negeri-negeri kepulauan lease sebagian besar bukan berada di pesisir pantai seperti sekarang ini, tetapi letaknya di pegunungan yang penuh denganbatu-batu karang yang besar dan dikelilingi oleh goa-goa yang dalam. Begitu juga di pulau Haruku tanah Alaka, benteng kerajaan Hatuhaha, letaknya dipegunungan kurang lebih 5 km dari tepi pantai. Kerajaan Hatuhaha terdiri dari 5 (lima) soa atau negeri bagian yaitu : Hulaliu, Pelau, Kailolo, Kabau, Rohomoni. Di sini tempat Upu Patti Hatuhaha bersama kapitan-kapitano, malesi-malesio serta seluruh bala rakyat hidup dengan aman dan sentosa
Pada tahun 1571 datanglah bangsa barat yaitu Portugis ke bagian Timur Indonesia, dan menduduki pulau-pulau di Maluku. Begitu juga tanah Alaka Benteng Hatuhaha ingin sekali diduduki oleh mereka. Selama beberapa hari, angkatan laut musuh mondar-mandir di selat Haruku dan mendaratlah angkatan perangnya disitu. Sementara itu ada seorang anak buah dari Patti Hatuhaha yang bernama Patti Kasim turun kelaut untuk mencari ikan, dan ia tidak tahu ada musuh disitu yang sedang emndari jalan ke Alaka. Patti Kasim yang ditanggap dibawah kehadapan panglima musuh; Patti Kasim diberikan 1 karung beras untuk dibawah pulang. Disini muncul tipu muslihat musuh. Sebelum beras itu diberikan, meraka melubangi karungnya sehingga dalam perjalanan ke Alaka, jatuhnya butir-butir beras ke tanah sehingga menjadi penunjuk jalan bagi musuh.
Setibanya Patti Kasim di Alaka, ia menceritakan kejadian tadi kepada Patti Hatuhaha. Secara serentak Patti Hatuhaha mengumpulkan bala rakyatnya dan menceritakan apa yang terjadi. Patti hatuhaha segera memerintahkan semua kapitan dan malesinya untuk bersiap-siap menghadapi setiap penyerangan, demi mempertahankan tanah air, tanah tumpah darah mereka. Kini pasukan musuh menuju ke Alaka menurut butir-butir beras tadi dan meraka bertemu dengan pasukan Patti Hatuhaha disini terjadi penyerbuan musuh terhadap benteng Hatuhaha, dan disambut dengan gigih oleh pasukan hatuhaha, yang tak mau mengenal mundur. Walaupun waktu itu masih kuno perlengkapan perang yakni parang dan salawaku, tetapi kapitan-kapitan Hatuhaha sangat pandai dalam mengatur strategi perang, oleh karena musuh dengan alat perang yang serba modern, maka mengakibatkan banyak anak buah dari Patti Hatuhaha menjadi korban. Kapitan pengharapan Hatuhaha pun ditangkap, kini menghadap panglima musuh. Sesudah dibujuk dengan kata-kata yang manis, pakaian serta makanan dan minuman yang enak-enak, maka ia setuju menjadi kaki tangan musuh, untuk melawan saudara-saudaranya sendiri. Kapitan ini kemudian kembali dan bertemu dengan teman-temannya yang ada dalam tahanan dan membujuk untuk menjadi anak buah musuh dan taat kepada pemerintahan musuh. Ada juga yang tetap menentang dan melarikan diri.
Musuh kini menduduki tanah Alaka, Patti Hatuhaha bersama anak buahnya mengundurkan diri dan mengadakan perlawanan secara gerilya. Sementara itu mereka berusaha meminta bantuan dari saudara-saudara dari pulau tetangga. Patti Hatuhaha kehilangan pengharapan karena anak buahnya makin hari makin berkurang. Dicari bantuan ke Ambon ( gunung Salahutu), di Nusa Ina (pulau ibu=seram), tetapi nasib tetap buruk.
Kira-kira sebelum peristiwa Alaka ini, terjadi perang saudara di Nusa laut yang namanya perang MOLAA. Salah seorang dari tanah Molaa yang melarikan diri dari peperangan tersebut, dan tibalah di pulau Haruku. Bertemulah ia dengan seorang anak buah dari Patti Hatuhaha yang sedang mendari ikan di laut. Setelah mereka berdua bertemu maka ia dibawa ke Patti Hatuhaha. Pertemuan antara saudara dari Molaa dengan Patti Hatuhaha, maka saudara ini menceritakan apa yang terjadi di negerinya. Katanya ada seorang kapitan yang gagah perkasa yang turut memberi bantuan dalam pertempuran itu. Namanya “Kapitan LISAL ESAA, kapitan matahari naik dari pulau Saparua tanah Huhule, tanah BEINUSA AMALATU, KAPITAN AIPASSA LATU HUHULE. Patti Hatuhaha menerima berita ini dengan lega hati dan serentak juga memerintahkan 2 anak buahnya menuju Huhule untuk meminta bantuan dari kapitan Aipassa.
Kedua utusan meninggalkan tanah Alaka Pulau Haruku menyeberang dari Hulaliu ke tanjung Uniputty Kulur, menuju pelabuhan Tuhaha, masuk di sungai Wai Ila dan mendaratlah pada sebuah tempat yang bernama Mata Air Seram. Keduanya terus berjalan menuju tanah Huhule, yang disitulah berdiam UPU LATU HUHULE, kapitan Aipassa yang didampingi oleh pangima-panglima yang gagah perkasa : KAPITAN POLLATU, KAPITAN PATTIPEILUHU dan KAPITAN SAHUSILAWANE. Tanah Huhule letaknya kurang lebih 6 km dari pesisir pantai. Huhule yang besar dan berkuasa dimana kapitan Aipassa bersemayam dengan segala kebesarannya dengan soa-soa atau bagian antara lain : AMAPATAL, TALEHU, AMAPUANO, MATALETE, APALILI, TAHAPAU, AMAHUTAI dan SOPAKE.
Di depan pintu negeri Huhule kedua utusan dari Hatuhaha itu ditahan oleh kapitan Sahusilawane pengawal negeri. Setelah sahuselawane mendengat maksud kedatangan kedua utusan tersebut, maka keduanya dibawa menghadap Latu Huhule. Setelah para utusan menyampaikan maksud mereka kepada Latu Huhule, maka segera juga Latu Huhule mengadakan rapat patasiwa di gunung saniri dan ditempat ini dipakai selalu oleh pada datuk-datuk sebagai tempat musyawarah sampai pada perang Pattimura. Kapitan Aipassa menyampaikan permintaan Patti Hatuhaha kepada semua kapitan dan malesinya seraya perintahkan Kapitan Pattipeiluhu atau Pattilapa untuk siapkan pasukan sebanyak tiga puluh kapitan dan malesinya untuk menuju Alaka membantu saudara-saudara mengusir penjajah dari bumi Lease.
Kapitan Pattipeiluhu sebelum berangkat tinggalkan Huhule, ia mengangkat sumpah yaitu sumpah tanah air bersama anak buahnya dihadapan Latu Huhule seraya berjanji : dalam tiga dari Upu Latu Huhule Raja Beinusa akan mendapat berita mengenai perjuangan mereka. Setelah kapitan Pattipeiluhu mengatakan janji maka Upu Latu Raja Raja Huhule memberi nasihat kepadanya dengan nasihatnya : INGATLAH KAMU TIDAK BOLEH BERMAIN-MAIN DENGAN WANITA. BAIKLAH KAMU MAJU DENGAN JIWA YANG SUCI, KIRANYA TUHAN ALLAH MENYERTAI KAMU’’.
Setelah semuanya selesai berangkatlah pasukan Pattilapa ke tanah Alaka. Mereka melintasi laut dan singgah di suatu tempat yaitu pada kaki air Wai ira, dari sini mereka menuju ke gunung Alaka. Setelah tiba di Alaka maka bertemulah pasukan Pattilapa dan Patti Hatuhaha. Kedua pasukan ini segera menuju medan pertempuran. Pertempuran terjadi dari kedua pasukan ini dengan pasukan musuh, tetapi karena Pattilapa telah tertarik pada seorang Nona dari Hatuhaha, maka oa telah melanggat janjinya kepada Huhele dan menjadi sial dalam peperangan ini. Penjajah berhasil mematahkan kekuatan Patti Hatuhaha dan Pattilapa. Pattipeiluhu tidak beruntung, ketiga puluh anak buahnya gugur dimedan bakti menjadi bunga bangsa yang menghiasi bumi Alaka hingga saat ini. Pattipeiluhu ditanggal oleh penjajah karena kekebalannya, ia di tembak tidak mati, dipotong tidak luka, serta ditikam tidak terasa, lalu akhirnya ia diikat dan dibuang kedalam kurungan besi. Di dalam kurungan besi, Pattipeiluhu tetap memegang parang dan salawaku karena kedua benda itu tdak bisa terlepas darinya, walaupun musuh telah berusaha mengambilnya.
Tiga hari telah berlalu, kapitan Aipassa mendapat berita atau tanda dari Pattipeiluhu, dengan jalan mawe beliau mendapat tanda bahwa Pattipeiluhu berada dalam keadaan bahaya. Dengan segera belian mengumpulkan semua kapitan Malesina untuk membicarakan keadaan Pattipeiluhu dan anak buahnya. Setelah berpikir ia mengambil kepurusan untuk pergi sendiri ke Alaka membantu anak-anaknya, dengan perjanjian beliau akan memberikan berita kepada Sowaku Polattu, setelah beliau menjalankan tugas.
Kapitan Aipassa anak keturunan Nunusaku memang seorang yang penuh dengan kuasa dan hikmat, dengan parang pengganti panggayo dan salawaku sebagai perahu, maka majulah kapitan Aipassa menuju Alaka, toma ombak dan gelombang, langgar arus dan angin topan, menyeberang laut yang bergelora maka tibalah di bumi Haruku. Kapitan Aipassa berjumpa dengans seorang rakyat Hatuhaha yang sedang mencari bia di tepi laut, setelah keduanya berbicara, maka kapitan Aipassa dibawa ke patti Hatuhaha. Disini terjadi pertemuan antara keduanya, dua orang yang tidak kenal menyerah dan tidak mau dijajah ini dalam malam gelap gulita mereka menuju benteng musuh, setelah sebelumnya semua yang merupakan kepintaran mereka disiapkan, maka yang pertama-tama menjadi mangsa mereka adalah pengawal yang mengawal benteng musuh. Setelah gugur, maka keduanya segera menuju ke kurungan besi, dan melepaskan Pattipeiluhhu. Kapitan Aipassa melaksanakan semua ini atas hikmat yang ada padanya. Setelah Pattipeiluhu bebas, maka ketiga tokoh rakyat ini segera menjalankan aksi mereka. Sementara itu keadaan dalam benteng penjajah menjadi heboh, sehingga segera juga terjadilah perang sengit. Hampir seluruh penghuni benteng menjadi korban, sendang sisanya melarikan diri sehingga rakyat Hatuhaha menjadi bebas kembali. Upa Latu Huhule menempati janjinya kepada Polatu serta semua bala rakyatnya di Huhule. Dengan satu lirang atap beliau terbang menyala-nyala ke negerinya.
Di negeri Huhule Kapitan Somala menyambut tanda kemenangan dari Latuny dengan gempita bersama semua bala rakyat. dari kemanangan inilah maka Beinussa dan Hatuhaha mengangkat Ikatan atau yang disebut Pela yaitu PELA TUMPAH DARAH atau PELA BATU KARANG.
Demikian sekelumit Kisah dari Perang Alaka / Perang Hatuhaha
Di Sampaikan pada acara KUMPUL BASUDARA, Beinusa Amalatu - Hatuhaha Amarima Lounusa, Kafe Ancol Bay, Jakarta 9 Oktober 2004
DEKLARASI ADAT 7 GANDONG
1. Kami Tujuh negeri “Assilulu, Paperu, Hulaliu, Tulehu, Sila, Tial, dan Laimu” adalah “Basudara Gandong”
2. Panas Gandong perlu dilestarikan sepanjang masa
3. Sepakat membentuk wadah basudara gandong dengan nama “SILATUPATIH dan SIRATU YAMA WALLU”
Semoga Tuhan Maha Kuasa Merahmati Kesepakatan Ini.
Assilulu, 15 April 2008
ASAL MULA VAAM SIAHAYA
Pada zaman sebelum masuknya agama nama seseorang itu diambil atau diberikan sesuai dengan waktu, keadaan dan tempat dimana ia dilahirkan. Misalnya di bulan Juli anak itu diberi nama, Julis atau kalau seperti di kapal anak itu di beri nama sesuai dengan nama kapal, misalnya KAMHEIS.
Setelah masuknya agama orang lalu memilih nama di dalam kitab suci seperti Alkitab yaitu, Yunus, Yakub, Yusuf dll. Di zaman modern ini orang lalu gemar memilih nama mengikuti bintang Film idolanya.
Nama SIAHAYA pada sebelum masuknya agama adalah SOURISA yang artinya Pengatur bicara dalam kerusuhan atau huru-hara. Jadi - SOU Artinya bicara,- RISA Artinya Kerusuhan / Huru-hara Bila orang dari marga Siahaya itu lahir dari ibu maka ia mempunyai nama : MARA. Jika dari ibu yang verasal dari marga Taihuttu maka ia disebut MARAPIKA, bila dari ibu NOYA maka ia disebut MARALESI. Sebab nama PIKA atau lesi inipun di berikan kepada anak-anak sebulum masuknya agama, dan manusia-manusia mulai dibabtiskan.
Berdasarkan keadaan seperti yang diuraikan di atas. Maka SOURISA di ubah menjadi SIAHAYA oleh karena waktu pembabtisan Sourisa ini datang terlambat jadi babtisannya seakan dipaksakan. Jadi setelah babtisan, perubahan Sourisa menjadi SIAHAYA berasal dari kata SIAHEKA / KEHAYEYA artinya dia sudah lulus atau beruntung.
Pembabtisan yang terjadi pada negeri ini turun dari pedalaman kelompok demi kelompok sehingga ternyata Siahaya yang datang terakhir, adapun tempat pembabtisannya adalah satu tempat di negeri Hulaliu yang bernama URUMAU. Uru ( Kepala ), Mau (halus / kecil ) jadi Urumau artinya kepala kecil/halus.
Setelah orang orang ini mau di babtiskan mereka masih mengikat kepala dengan kain yang disebut oleh mereka DESTAR. Ketika Destar hendak dilepaskan saat di babtis, kepala mereka kelihatan kecil / halus sehingga disebut URUMAU seperti yang diuraikan tadi. Hal ini sesuai dengan lani / Kapata yang selalu di nyanyikan yaitu : Ipusu,u’in Rahitaue Heriurui Inusu,u’ Nasarane. Yang artinya ia lepaskan Destarnya dari kepala dan mengaku masuk agama RK.
Jadi Siahaya berasal dari kata Siahayeya / kihayeya yang artinya ia sudah lulus atau berbahagia.
¬¬¬¬¬Dituturkan oleh Elsama Siahaya “Tete Ama” (Almarhum)
Injil Masuk Di Negeri Hulaliu
I. PENDAHULUAN
Dewasa ini kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, menyebabkan seseorang akan dengan mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut boleh didapat melalui referensi kepusatakaan yang tersedia, boleh juga didapat melalui media massa maupun media elektronik lainnya secara tepat dan akurat.
Namun untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang berbagai masalah masa lampau (tempo dulu) kiranya sangat sulit untuk mendapatkannya seperti untuk menelusuri jejak-jejak pelaksanan Pekabaran Injil di Hulaliu, bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah. Hal ini terkendala oleh beberapa masalah antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:
1.1. Tidak banyak terdapat referensi kepustakaan yang dapat digunakan sebagai acuan
1.2. Kalaupun informasi tersebut disampaikan secara lisan mudah ditebak akan terjadi berbagai perubahan dalam hal penyampaiannya dari satu sumber ke sumber yang lain sehingga informasi yang dibutuhkan tidak lagi sesuai dengan yang aslinya.
Dalam kondisi semacam ini diperlukan sedikit kemampuan menganalisis informasi tersebut untuk mendapatkan jawaban kompromi yang lebih mendekati kebenaran.
Dalam makalah ini akan dibicarakan 4 hal penting tentang Pekabaran Injil di Hulaliu antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:
a. Pekabaran Injil Zaman Portugis (1590 – 1605)
b. Pekabaran Injil Zaman VOC (1605 – 1815)
c. Pekabaran Injil Zaman NZG (1815 – 1864)
d. Pekabaran Injil Zaman Pemerintah Hindia Belanda (1864 – 1935)
Melalui rincian sebagaimana disebutkan di atas diharapkan penelusuran terhadap jejak Pekabaran Injil di Hulaliu dapat diketahui.
II. PERKEMBANGAN PEKABARAN INJIL DI HULALIU
Pekabaran Injil di Hulaliu pada zaman Portugis berlangsung singkat ± 15 tahun kurun waktu antara tahun 1590 – 1605.
1. Upu Pikai Laisina
Menurut catatan sejarah Upu Pikai Laisina sebagai tokoh sentral kepemimpinan masyarakat ”Aman Hatu Alassi (Hulaliu) dicari dan dibujuk oleh Portugis kemudian beliau dibaptis secara Katholik pada tanggal 31 Desember 1590, yang kemudian diganti namanya menjadi ”Simon Supu Laisina”.
Selanjutnya disebutkan bahwa Simon Supu Laisina ini merupakan orang pertama yang menerima Sakramen Baptisan secara Katholik.
2. Pembaptisan Secara Massal
Dengan menggunakan jasa baik dari Simon Supu Laisina beserta para pengikutnya terkumpullah masyarakat Aman Hatu Alassi (Hulaliu) di tepi pantai Urumau pada saat air surut (meti) lalu dilaksanakan pembaptisan massal tersebut oleh Portugis. Tentang masalah pembaptisan secara massal ini terdapat perbedaan pendapat dari beberapa sumber pembaptisan secara massal tersebut.
Dari sumber pertama disebutkan bahwa yang melaksanakan pembaptisan massal di pantai Urumau tersebut adalah Gustaf Jansen.
Namun berdasarkan sumber lain yang merupakan hasil wawancara ”Tim Pencari Data dan Informasi Seminar” dengan mantan Uskup Diosis Amboina Monsinyur Sool, MSc[2] dikatakan oleh beliau bahwa kemungkinan besar pembaptisan massal di pantai Urumau tersebut bukanlah dilakukan oleh Gustaf Jansen, karena dilihat dari namanya Gustaf Jansen adalah seorang Belanda dan bukan seorang Portugis dan informasi ini diperkuat dengan daftar Pastor Katholik yang dikirim ke Ambon, tidak terdapat nama Gustaf Jansen.
Menurut C. Wissel S. J dalam bukunya : ”Sejarah Misi Katholik di Maluku”[3] disebutkan bahwa untuk melaksanakan pembaptisan massal di Ambon dan Lease ditugaskan secara khusus 3 orang Pastor masing-masing: Pastor Antonio Marta tiba 13 Maret 1587; Pastor Pero Nunez tiba 16 November 1589; tetapi kemudian meninggal dunia di Ambon tahun 1591. Sedangkan Pastor Lorenso Masonio tiba di Ambon 5 Desember 1590 sampai tahun 1605. Sementara Pastor Antonio Marta sendiri berangkat ke Goa pada tahun 1591. Dari penjelasan tentang ketiga Pastor di atas dapat disimpulkan bahwa Pastor Lorenso Masoniolah yang diperkirakan melakukan pembaptisan massal di pantai Urumau tersebut. Selanjutnya oleh Monsinyur Sool MSc disebutkan pula bahwa setiap pembaptisan massal dalam Agama Katholik selalu ditangani oleh seorang Pastor, dengan menggunakan Akta Baptisan Kudus dalam bahasa Yunani sebagai berikut: ”Ego te Baptiso in Nomine Patris et Felu et Spiritus Sancti” ( = Aku membaptis engkau/kamu dalam Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus).
3. Gereja Santo Theo
”Santo Theo” merupakan nama Gedung Gereja Katholik di Hulaliu yang dibangun sebagai tempat berbadah antara tahun 1590 – 1605. Tidak diketahui dengan pasti siapa yang membangunnya. Dilihat dari namanya ”Santo Theo” mengandung makna yang sangat religius karena:
- Santo ( = utusan)
- Theo ( = Tuhan, Allah)
Sehingga ”Santo Theo” ( = utusan Tuhan atau utusan Allah)
4. Akhir Penyebaran Agama Katholik di Hulaliu
Menurut C. Wissel S. J.[4] disebutkan bahwa seluruh aktivitas baik perdagangan maupun penyebaran Agama Katholik, serta upaya perluasan wilayah kekuasaan berakhir secara serentak pada tahun 1605, karena dikalahkan atau diusir secara paksa oleh VOC. Dari penjelasan di atas hal itu berarti bahwa misi penyebaran Agama Katholik di Hulaliu hanya berlangsung selama ± 15 tahun saja (1590 – 1605). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam kurun waktu yang begitu singkat diyakini tidak banyak yang dapat dibuat oleh para penginjil Portugis pada waktu itu. Tidak juga diketahui dengan pasti berapa banyak anggota jemaat yang sudah dibaptis secara Katholik.
5. Beberapa Peninggalan Historis
Walaupun upaya penyebaran Agama Katholik di Hulaliu hanya berlangsung ± 15 tahun namun mereka boleh berbangga hati atas peninggalan bersejarah antara lain:[5]
5.1. Dapat membangun sebuah Gedung Gereja dengan nama ”Santo Theo”
5.2. Penggunaan Pakaian Tradisional gerejawi yang hingga kini masih dipelihara secara lestari yakni Pakaian Hitam terutama bagi mereka yang baru menerima pangkat ”Sidi Baru” antara lain:
5.2.1. Wanita memakai kain hitam dan baju hitam dengan menyandang ”kain pikul” yang dipenuhi dengan manik-manik dibahu kiri.
5.2.2. Para pria memakai celana hitam dan baju (kebaya) hitam dengan Baniang Putih atau jubah panjang hitam dan celana hitam.
5.2.3 Pakaian hitam ini baik wanita maupun pria memakainya juga pada upacara-upacara adat lainnya dengan menyandang ”Lengso” di leher.
5.2.4. Orkes Suling Bambu yang ditiup oleh para pemuda dalam mengiringi lagu-lagu gereja juga merupakan peninggalan zaman Portugis.
5.2.5. Khusus untuk Orkes Suling Bambu ini pada Zaman Joseph Kam terus dikembangkan sebagai musik gerejawi yang diwajibkan.
B. PEKABARAN INJIL ZAMAN VOC
1. Misi Yang Diemban
Berakhirnya kekuasaan Portugis di Maluku pada tahun 1605 memberi kesempatan yang luas bagi VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) untuk melaksanakan hak-hak ”Oktroinya” yaitu hak untuk memonopoli semua kegiatan perdagangan, perkabaran Injil maupun hak-hak politik lainnya.
Menurut Frank L. Cooley dalam bukunya ”Mimbar dan Tahta” dikemukakan bahwa misi yang diemban itu meliputi:[6]
1.1. Menghentikan semua kegiatan Portugis terutama menyangkut perdagangan dan penginjilannya dan segera meninggalkan Indonesia (Maluku)
1.2. Melaksanakan upaya pelayanan rohani hanya untuk warga Belanda saja baik mereka yang berada di bidang pemerintahan maupun mereka yang terdaftar sebagai Pegawai Kompeni dan lain-lain sebagainya. Ini juga berarti bahwa pelayanan rohani bagi penduduk pribumi tidak terlalu penting. Yang penting bagi VOC ialah bagaimana VOC bisa merangkul mereka sehingga mereka merasa sebagai bagian yang intergral dari VOC atau Kompeni.
1.3. Memberantas segala macam penyembahan berhala dan agama palsu yang kelihatannya masih merajalela diantara anggota jemaat.
1.4. Memprotestankan semua anggota jemaat yang terlebih dahulu telah memeluk Agama Katholik dan mengkristenkan semua penduduk pribumi yang masih memeluk Agama Kafir.
Kondisi ini berlaku juga bagi seluruh anggota jemaat Hulaliu yang sebelumnya telah dibaptis secara Katholik. Pembaptisan semacam ini pada mulanya dilaksanakan secara hati-hati namun kurang berhasil dan selanjutnya dilaksanakan secara paksa demi memenuhi ambisi politiknya untuk mengisoler penduduk pribumi dari sisa-sisa pengaruh Portugis.
2. Simon Supu Laisina
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa Simon Supu Laisina Ama Patih Lounusa adalah orang Hulaliu pertama yang secara sukarela menerima sakramen Baptisan dalam Agama Katholik pada tanggal 31 Desember 1590. Simon Supu Laisina pulalah merupakan orang pertama yang menentang pembaptisan ulang secara Protestan yang dilakukan oleh VOC (kompeni) karena tindakannya ini ia kemudian ditangkap atas perintah Gubernur Jenderal Frederik Houtman pada tanggal 15 Mei 1605, kemudian diasingkan ke Makassar dan meninggal dunia karena hukuman gantung pada tanggal 1 Maret 1637. Pada gambar 1 di samping terlihat Monumen dari Simon Supu Laisina dan berisi penjelasan sebagai berikut:
”SIMON SUPU LAISINA AMA PATIH LOUNUSA HATURESI RAKANYAWA PATIH PERTAMA-TAMA DARI NEGERI HOELALIOE SUDAH MENERIMA SAKRAMENT PERMANDIAN SERANI R.K. DAN SUDAH DAPAT SURAT SEGURES DARI LAKSAMANA PADA VULAN MARET (ANNO 1637). PERINGATAN INI DIKERJAKAN OLEH ABRAHAM LAISINA PATIH LOUNUSA PADA 25 JUNI 1837 DAN DIPERBAIKI OLEH HERMANUS FERDINAND RUDOLF LAISINA (GEDENSIOHI E. E. R. D MILITAIR GOEPOE R.K), ANAK WARITS PUSAKA PATIH LOUNUSA PADA (28 AGUSTUS ANNO 1937) DI MAKASSAR”.
3. Runtuhnya VOC
Selama hampir dua abad (1605 – 1799) VOC berkuasa tidaklah banyak yang dibuatnya dalam upaya penginjilan kepada masyarakat Hulaliu. Ada tiga hal yang boleh dikatakan sebagai hasil keserakahan VOC terhadap masyarakat Hulaliu antara lain:
3.1. VOC berhasil mengadakan pembaptisan secara massal dengan memaksa masyarakat untuk memeluk Agama Kristen Protestan sebagai pengganti agama Katholik yang sebelumnya telah dianut.
3.2 Simon Supu Laisina Ama Patih Lounusa sangat menentang upaya penggantian agama dari Agama Katholik ke Agama Kristen Protestan karena ketetapan keyakinan imannya untuk memeluk Agama Katholik itulah maka ia diasingkan ke Makassar dan mendapat hukuman mati gantung pada tahun 1637.
3.3. Dari penjelasan di dalam Monumen di atas dapat disimpulkan bahwa Anak-anak warits dari Simon Supu Laisina hingga kini masih memeluk Agama Katholik.
III. PERAN SEORANG JOSEPH KAM SELAMA PROSES PENGINJILAN DI HULALIU
A. IDENTITAS DIRI JOSEPH KAM
· Lahir di Belanda pada bulan September 1771
· Tiba di Ambon pada tanggal 3 Maret 1815 dalam usia 44 tahun
· Kawin dengan Sara Maria Timmerman seorang gadis Belanda – Ambon, pada tanggal 28 April 1816.
· Meninggal Dunia pada tanggal 18 Juli 1833 dalam usia 62 tahun
· Semasa pemerintahan Inggris di Indonesia (1811 – 1815) Joseph Kam diutus untuk pertama kalinya sebagai pekabar Injil dari Organisasi Penginjilan Belanda NZG (= Nederlandche Zendeling Genootchap).
· Dalam masa tugasnya di Maluku (1815 – 1833) atas tugas-tugas penginjilannya yang tak pernah mengenal lelah ia diberi gelar (julukan) sebagai “Rasul Maluku”.
B. KEHADIRAN JOSEPH KAM DI HULALIU
1. Gambaran Awal tentang kondisi Jemaat
Menurut I. H. Enklaar (1980) dalam bukunya ”Joseph Kam Rasul Maluku”, disebutkan bahwa kehadiran Joseph Kam untuk pertama kalinya di Hulaliu pada tanggal 19 Oktober 1822.
Untuk mendapatkan gambaran awal tentang kondisi anggota Jemaat yang dikunjunginya Joseph Kam mencatat hal-hal sebagai berikut:[7]
| - | Jumlah Anggota Sidi Dewasa | = | 163 orang |
| - | Jumlah Anggota Sidi Baru | = | 6 orang |
| - | Jumlah Baptisan Dewasa | = | 72 orang |
| - | Jumlah Baptisan Anak-anak | = | 12 orang |
| - | Jumlah Anak-anak Sekolah | = | 94 orang |
| - | Jumlah Anak-anak belum Sekolah | = | 29 orang |
| - | Orang Kafir yang belum dibaptis | = | - orang |
| | Total Jumlah Anggota Jemaat (penduduk) Hulaliu | = | 376 orang |
Dari gambaran data pada halaman sebelumnya dapat disimpulkan tentang beberapa hal sebagai berikut:
- Jumlah anggota Jemaat sama dengan jumlah penduduk Hulaliu pada saat itu sebanyak 376 orang
- Tidak ada lagi orang kafir pada waktu Joseph Kam tiba di Hulaliu. Hal ini berarti bahwa semua penduduk telah di baptis secara Kristen Protestan.
- Jumlah anak yang mengikuti pendidikan (sekolah) sebanyak 94 orang atau ± 25% dari keseluruhan jumlah penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya
2. Proses Pembaptisan Anak
Dari data yang ada pada tabel 1 dan 2 (lampiran 3 dan 4) ternyata proses pembaptisan anak di Hulaliu selama kurun waktu tahun 1814 – 1935, terdapat 2.427 anak yang telah dibaptis terdiri dari laki-laki 1.229 anak dan perempuan sebanyak 1.198 anak. Proses pembaptisan itu telah dilaksanakan sebanyak 119 kali baptisan dengan melibatkan sejumlah pendeta sebanyak 24 orang termasuk di dalamnya Joseph Kam. Joseph Kam sendiri melaksanakan proses pembaptisan ini sebanyak 6 kali baptisan dengan jumlah anak yang dibaptis sebanyak 67 orang terdiri dari anak-anak laki-laki sebanyak 23 orang dan anak perempuan sebanyak 42 orang. Pembaptisan oleh Joseph Kam ini berlangsung antara tahun 1822 – 1827[8]. Sebagai umat Kristen Protestan kita perlu berbangga hati karena pada tanggal 19 Maret 1826 atas pimpinan Joseph Kam dengan bantuan kerja sama seluruh anggota jemaat telah berupaya membangun sebuah Gereja sebagai tempat beribadah yang berlokasi pada bekas reruntuhan Gereja Santo Theo (Portugis) dan pentahbisan penggunaannya dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 1827 oleh Joseph Kam sendiri dan diberi nama ”Beitlahem”. Atas prakarsa Joseph Kam dibuatlah sebuah prasasti (batu bertulis) seperti ditunjukkan pada gambar 2 sebagai peringatan bagi anak cucu dikemudian hari. Agar apa yang ditulis dalam prasasti itu dapat dibaca secara luas oleh siapapun. Secara jelas di bawah ini diulang penulisannya sebagai berikut:
INILAH KADJADIAN KABAH KASUTJIANG JANG
KUDUS TELAH SUDAH MEMBAN
GONKAN ITU PADA 19 MART
TAHON 1826
DAN SUDAH DISEMPORNAKAN KARDJA JANG MULIA INI ANTARA PEUSAHAN KOM DAN PANDITA DERI PADA BATU JANG TERSUSON DAN KAJOH YANG SUDAH TERLANGKAP SAMBIL DEPERMANDIKAN PADA 24 OKTOBER TAHON 1827 ATAS TARTIP DAN PANTORANG DERI PADA TUWAN CHATIP KAMI JOSEP KAM KAPADA SAGANAP KOM DAN CHALIKHA DALAM BEITLAHEM NEGERI INI.
3. Nubuatan Joseph Kam[9]
Nubuat adalah upaya penyampaian masalah oleh seseorang yang diramalkan akan terjadi pada masa-masa yang akan datang yang didasarkan kepada kenyataan hidup pada masa kini. Demikian pula nubuatan Joseph Kam terhadap kehidupan jemaat Hulaliu didasarkan pada kenyataan hidup bersama mereka pada saat itu sebagai berikut:
- Pada akhir tugas pergembalaan dan pelayanan umat, Joseph Kam merasa sangat gembira dan mengagumi semangat kebersamaan umat dalam memberantas dan membumihanguskan semua tempat penyembahan berhala di Hulaliu dan bersumpah setia untuk tetap percaya kepada kepemimpinan Yesus Kristus dalam hidup mereka (I. H. Enklaar (1980) dalam bukunya yang berjudul ”Joseph Kam Rasul Maluku
- Selama kurun waktu 6 kali perjumpaan (1822 – 1827) yang dilakukan dalam bentuk pengembalaan umat dan pembaptisan anak. Joseph Kam mengetahui betul betapa religiusnya kehidupan beragama umat.
- Joseph Kam pun mengetahui secara dekat bahwa anggota jemaat Hulaliu merupakan pekerja-pekerja keras tanpa pamrih baik sebagai petani maupun sebagai nelayan yang trampil
- Di bidang pendidikan Joseph Kam sangat mengagumi semangat dan upaya orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya, sebab dari jumlah anggota jemaat pada tahun 1821 sebanyak 376 orang, 94 orang atau 25% dari jumlah anggota jemaat Hulaliu adalah merupakan jumlah anak-anak sekolah.
- Satu hal yang sangat dikagumi Joseph Kam adalah kesetiaan dan kepatuhan anggota jemaat dalam mengikuti berbagai ibadah seperti:
1. Misa (ibadah minggu)
2. Gabeti (Ibadah Kunci Usbu) dan
3. Arahad (Ibadah sekolah Minggu)
- Bahwa tidak hanya jam-jam ibadah umat menjadi perhatian dari para pendeta guru jemaat, penginjil maupun para pengasuh sekolah Minggu dan tuagama saja namun juga menjadi perhatian dari Upu Patih Lounusa yang berkuasa pada saat itu. Sebagai contoh pada masa pemerintahan Upu Patih Lounusa AS. Laisina dikeluarkanlah sebuah titah kepada masyarakat melalui tabaos yang berbunyi demikian:[10]
”HALE TITA LARI’I UPU PATIH LOUNUSA
PARUTU’M WANA WARIA PANAU’SI KOPA’SI RIMA
UMA PALAPU : WAKA’A MAI-MAI JAM-JAM
MISA, GABETI LAHA’A ISKOLA”
Terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:
”ADA TITA DARI UPU PATIH LOUNUSA
KUMPULKAN SEMUA ANAK-ANAKMU
AJARLAH MEREKA ANGKAT TANGAN LALU BERSUMPAH
INGAT JAGA WAKTU-WAKTU IBADAH GEREJA HARI MINGGU,
KUNCI USBU DAN JAM-JAM SEKOLAH”
Kerja sama dalam pembinaan jemaat semacam inilah yang begitu terkesan bagi Joseph Kam sehingga dia mengeluarkan beberapa Nubuatan Berkat atas gambaran kehidupan anggota Jemaat Hulaliu yang setia dan religius.
Beberapa Nubuatan Berkat tersebut antara lain sebagai berikut:
3.1. ”Negeri ini tidak akan kekurangan roti”
Bila kita telusuri makna dari nubuatan Joseph Kam ini dan dikaitkan dengan kehidupan anggota jemaat hingga saat ini maka saya dapat kemukakan bahwa tidak ada satu orang Hulaliu pun yang dapat menyangkal berkat nubuatan Joseph Kam tersebut yang masih berlaku turun-temurun hingga saat ini.
3.2. ”Negeri ini saya namakan Bethlehem”
Berdasarkan kenyataan yang ada pada point 3.1. di atas sewajarnya Joseph Kam menamai negeri Hulaliu ini dengan nama ”Beitlahem” ( = Rumah Roti). Di dalam prasasti yang ditulis oleh Joseph Kam sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Joseph Kam telah memberi nama ”Beitlahem” kepada gedung gereja yang dibangun dan ditahbiskan penggunaannya pada tanggal 24 Oktober 1827.
”Dari dalam negeri ini akan lahir guru-guru midras dan guru-guru Agama dalam jumlah yang banyak”.
Tidak ada satupun orang Hulaliu yang bisa menyangkal hasil dari nubuatan Berkat Joseph Kam ini. Begitu banyak guru-guru Agama, guru-guru Injil telah lahir dari negeri ini. Mereka dengan senang hati telah dikirim ke berbagai tempat dalam pengabdiannya untuk menyampaikan kabar baik tentang kehadiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat Dunia. Dari hasil wawancara kami dengan ibu Roose Noya, Leopold Taihuttu dan Bapak Drs Ary Noya (ketiganya merupakan pensiunan PNS dan juga berprofesi sebagai guru) dapat diketahui bahwa hampir ± 70 orang dari anggota jemaat Hulaliu antara tahun 1889 – 1934 berprofesi sebagai guru jemaat dan guru Injil. Mereka ini tersebar ke Maluku Utara (Tobelo, Morotai, Kao, Weda, Makian dan Bacan), ke Maluku Tenggara, Kepulauan Aru dan Maluku Tenggara Barat, serta ke pedalaman Irian (Papua) dan juga ke Sulawesi Tengah (Poso, Toraja, Majene) dan lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 3. Pernahkah kita mendengar ungkapan ”Negeri Hulaliu sebagai gudang Guru?” Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut:
a. Hampir dalam setiap keluarga orang Hulaliu pasti ada seorang Guru
b. Hampir pada sebagian besar desa di Maluku pernah bertugas seorang Guru yang berasal dari Hulaliu entah dia berprofesi sebagai guru TK, SD, SMP, maupun SLTA.
c. Dewasa ini telah lahir pula puluhan bahkan ratusan sarjana S1 dan S2 dari berbagai disiplin ilmu.
Kesemuanya ini merupakan kenyataan dari hasil Nubuatan Joseph Kam berabad-abad yang lampau terhadap kesetiaan dan ketaatan anggota jemaat Hulaliu dalam menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.
IV. MENGAPA 100 TAHUN USIA GEDUNG GEREJA BETHLEHEM HULALIU PERLU DIRAYAKAN
A. MENGAPA USIA 100 TAHUN
Banyak orang Hulaliu baik dalam jemaat Hulaliu sendiri maupun di luar jemaat Hulaliu sering bertanya
1. Mengapa Hari Ulang Tahun Gedung Gereja Bethlehem jatuh pada tanggal 7 Mei 2007? Dari manakah data dan informasi yang otentik di dapat untuk membuktikan hal itu?
2. Pertanyaan lain yang lebih spesifik dikemukakan antara lain apakah perhitungan 100 tahun usia itu ditentukan berdasarkan tanggal/tahun dimulainya peletakan batu pertama ataukah tanggal/tahun setelah gedung Gereja tersebut selesai dibangun dan ditahbiskan penggunaannya?
3. Adakah anggota jemaat yang mengetahui banyak tentang hal itu?
B. BAPAK ABRAHAM NOYA (ALMARHUM) MENJAWAB
Bapak Abraham Noya seorang pelayan yang bekerja sebagai “Tuagama” di Gereja Bethlehem Hulaliu. Beliau lahir pada tahun 1858 dan bekerja sebagai seorang pelayan dan pengabdi yang setia dalam pekerjaan Tuhan di gereja Bethlehem Hulaliu ini selama ± 65 tahun yaitu dari tahun 1888 – 1953. Beliau meninggal pada tahun 1953 dalam usia 95 tahun. Dari catatan sejarah yang dibuatnya secara tertulis dan disimpan oleh Bapak Drs. Ary Noya terungkap sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan sejarah pembangunan gedung Gereja Bethlehem Hulaliu yang diuraikan berdasarkan periode waktu
pelaksanaan pembangunan yang adalah sebagai berikut:
1. Gedung Gereja yang dibangun zaman Portugis antara tahun 1590–1605 bernama “Santo Theo” (utusan Allah) yang berlokasi di pesisir pantai ke arah Timur berdekatan dengan Rumah Adat “Baileu” (sekarang lokasi sekolah TK).
2. Pada bekas lokasi Santo Theo itu (karena telah lenyap dimakan usia) dibangunlah Gedung Gereja yang baru oleh Joseph Kam pada tanggal 19 Maret 1826 dan dibaptis penggunaannya oleh Joseph Kam sendiri pada tanggal 24 Oktober 1827 dengan nama Beitlahem ( I ).
3. Menurut Bapak Elsama Siahaya seorang pemerhati sejarah Negeri Hulaliu menyebutkan bahwa tukang-tukang yang membangun Gedung Gereja Bethlehem (I) tersebut terdiri dari:[11]
a. Tukang Kepala : Bapak Tapiheru (Almarhum)
b. Tukang-tukang pembantu terdiri dari:
1. Bapak Sina Pati Siahaya (Alm)
2. Bapak Losir Siahaya (Alm)
3. Bapak Jacob Siahaya (Alm)
4. Selama kurun waktu 80 tahun (1827 – 1907) jemaat Hulaliu melaksanakan ibadah pada gedung Gereja Beitlahem dan kemudian direncanakan pembangunan gedung Gereja yang baru (II) dan berlokasi di tengah-tengah negeri ke arah Barat ± 200 meter jaraknya dari gedung Gereja Beitlahem ( I ) yang lama, dengan nama Bethlehem ( II )
5. Selanjutnya menurut catatan sejarah Bapak Abraham Noya (almarhum) bahwa proses pembangunan gedung Gereja Bethlehem ( II ) tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut:
a. Pada hari Senin 28 Januari 1907 usaha pemotongan tiang Bermula mulai dilaksanakan.
b. Pada hari Selasa, 7 Mei 1907 pembangunan Gedung Gereja Bethlehem (II) dilaksanakan yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Pendeta Groot Huis yang secara khusus didatangkan dari Saparua.
c. Gedung Gereja Bethlehem (II) ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 24 Maret 1912 tanpa dasar permanen dan pentahbisannya baru dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1931 oleh Pendeta Rumsude.
d. Kepala Tukang yang menangani Pembangunan Gedung Gereja Bethlehem ( II ) ini bernama A. Peng (Cina). Namun karena satu dan lain sebab A Peng meninggal dunia secara mendadak dan diganti oleh adiknya yang bernama A Kim dalam rangka penyelesaian pembangunan tersebut.
e. Pentahbisan penggunaan gedung Gereja Bethlehem (II) ini dilaksanakan pada masa pemerintahan Upu Patih Lounusa A. S. Laisina dengan
disaksikan oleh kepala-kepala Soa yang terdiri dari:
- Bapak Tonci Taihuttu (almarhum)
- Bapak Dominggus Siahaya (almarhum) dan
- Bapak Izaac Noya (almarhum)
f. Data dan informasi pada poin b pada halaman 14 dijadikan sebagai acuan dan rujukan ide untuk merayakan Ulang Tahun ke 100 gedung Gereja Bethlehem ( II ) itu pada tanggal 7 Mei 2007.
V. PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Simon Supu Laisina merupakan orang Hulaliu pertama yang menerima Sakramen Baptisan secara Katholik pada 31 Desember 1590.
2. Pelaksanaan Pekabaran Injil di Hulaliu berlangsung selama 4 (empat) periode antara lain:
a. Pekabaran Injil zaman Portugis (1590 – 1605)
b. Pekabaran Injil zaman VOC (1605 – 1815)
c. Pekabaran Injil zaman NZG (1815 -1864)
d. Pekabaran Injil zaman Pemerintah Hindia Belanda
3. Nubuatan Joseph Kam atas kesungguhan orang Hulaliu dalam menerima Yesus Kristus sebagai Pemimpin Hidup sebagai berikut:
a. Negeri ini tidak akan kekurangan roti
b. Saya namakan negeri ini Bethlehem (rumah roti)
c. Dari dalam negeri ini akan lahir guru-guru Midras, guru-guru Agama dan guru-guru Injil dalam jumlah banyak
4. Jumlah anak-anak Hulaliu yang dibaptis selama tahun 1814 – 1934 sebanyak 2.427 orang terdiri dari anak laki-laki sebanyak 1.249 orang dan anak perempuan sebanyak 1.198 orang.
B. SARAN
1. Untuk menjamin tersedianya data yang otentik tentang perkembangan jemaat Hulaliu kedepan maka perlu dikembangkan administrasi Gereja yang lebih baik dan konsekuen.
2. Sehubungan dengan kondisi gedung Gereja Bethlehem sekarang semakin tua dimakan usia, perlu dipikirkan pembentukan sebuah panitia Pembangunan gedung Gereja Bethlehem yang baru dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan jemaat Hulaliu sesuai perkembangan jaman kedepan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kruger Muller, Sejarah Gereja di Indonesia, Badan Penerbit Kristus, Jakarta
2. Enklaar. I. H, Joseph Kam, Rasul Maluku, BPK Gunung Mulia, Kwitang No 22, Jakarta, 1980
3. Cooley. Frank. L, Mimbar dan Tahta, Hubungan Lembaga-lembaga Keagamaan dan Pemerintahan di Maluku Tengah.
4. Uhi. Jannes. Alexander, Hatuhaha Amarima Lounusa, Unpublishing (Thesis).
5. Wissel. C. S. J, Sejarah Misi Katholik di Maluku.
6. Wawancara dengan Monsinyur Sool MSc, Mantan Uskup Diosis Amboina tentang : “Siapakah Nama Pastor yang melaksanakan Pembaptisan Massal di Pantai Urumau”.
7. Kutipan dari dalam Daftar Permandian Jemaat Bethlehem, Hulaliu
8. Wawancara dengan Drs. Ary Noya cucu dari Abraham Noya (almarhum) tentang Pembangunan Gedung Gereja Bethlehem ( I ) dan ( II ).
9. Wawancara dengan Ibu Roose Noya, Bapak Drs. Ary Noya dan Bapak Leopold Taihuttu tentang Guru-guru Agama dan Guru-guru Injil asal Hulaliu
10. Wawancara dengan Bapak Elsama Siahaya, Pemerhati Sejarah Negeri Hulaliu tentang : Nama Tukang-tukang yang Menangani Pembangunan Gedung Gereja Bethlehem ( I ) Zaman Joseph Kam.
[1] Disampaikan pada Seminar Sehari pada tanggal 20 Juni 2007 dalam rangka Menyongsong 100 tahun usia gedung Gereja Bethlehem Hulaliu.
[2] Hasil wawancara dengan Monsinyur Soll, MSc, Mantan Uskup Diosis Amboina.
[3] C. Wissel. S. J. “Sejarah Misi Katholik di Maluku, hal 15
[4] C. Wissel. S. J. “Sejarah Misi Katholik di Maluku, hal 37
[5] Frank. L. Cooley; Mimbar dan Tahta, hal 253
[6] Dr. Th. Muller Kruger; Sejarah Gereja di Indonesia, hal 94-95
[7] I. H. Enklaar; Joseph Kam Rasul Maluku, hal 172
[8] Daftar Baptisan Anak Jemaat Bethlehem Hulaliu table 1 dan 2 (lampiran 3 dan 4)
[9] Hasil wawancara dengan Drs Ary Noya, cucu Bapak Abraham Noya (Almarhum) bulan Mei 2007
[10] Hasil wawancara dengan Bpk. Drs Ary Noya salah satu cucu Bapak Abraham Noya (Almarhum)
[11] Hasil wawancara dengan Bapak Elsama Siahaya salah seorang pemerhati Sejarah Negeri Hulaliu