Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan

PELAKSANAAN SASI

Oleh Agusno Sahureka

Ulangan 8:1. "Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu

.Pengelolaan dusun oleh masyarakat di Maluku telah berlangsung lama dan turun temurun sejak zamn nenek moyang. Begitu pula dengan aturan dan kaidah yang dibuat secara lisan maupun tertulis yang mengatur masyarakat dalam pengelolaan hutan untuk tetap menjaga kelestarian hasil maupun ekosistem walaupun telah mengalami berbagai perubahan seiring kemajuan zaman. Aturan tersebut yakni pelaksanaan sasi (larangan) untuk mengambil hasil dusun sebelum waktu yang telah disesuaikan dan ditentukan.

Sasi merupakan budaya turun temurun sehingga dengan menjalankan sasi, jelaslah melestarikan budaya nenek moyang disamping fungsi utama melestarikan alam ciptaan Tuhan.

Pelaksanaan sasi ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi secara menyeluruh, pelaksanaan sasi memungkinkan agar sumber daya alam didarat dapat berkembang dan terjaga kualitas selama tutup sasi hingga waktu yang ditentukan untuk buka sasi.

Pelaksanaan sasi yang dilakukan dan didasari dengan doa di gereja menandakan betapa besar peran gereja guna mengingatkan umat agar memahami dan menyadari akan kasih Allah kepada manusia melalui alam yang telah tersedia. Sasi mengingatkan manusia bahwa manusia harus turut serta dalam pemeliharaan demi untuk kelangsungan hidup yang lebih baik dan lebih berkualitas.

Dengan demikian pelaksanaan sasi memberikan manfaat bagi terjaminnya kualitas sumber daya maupun ekosistem agar tetap lestari dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kelangsungan hidup manusia yang didalamnya terkandung fungsi pemanfaatan, pengelolaan, pengawasan, pemeliharaan, dan pengendalian sumber daya alam.

PERTAMA TUHAN, KEDUA LELUHUR

Oleh Agusno Sahureka, S.Si
Keluaran: 3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Budaya dan adat istiadat selamanya berasal dari para leluhur dan disampaikan secara lisan kepada anak cucu dari masa ke masa. Adat istiadat serta aturan-aturan inilah yang menyebabkan kedekatan bathin antara manusia dimasa kini dan para leluhur yang telah meninggal bahkan diyakini bahwa roh atau arwah leluhur masih tetap ada.
Nenek moyang bukanlah bagian yang terpisahkan dari kehidupan kita di saat ini, tanpa nenek moyang kita tidaklah mungkin ada, karena manusia saat ini dan nenek moyangnya adalah satu dalam garis keturunan yang nyata. Sehingga sudah sepantasnya kita sadar akan keberdaan dan keberadaan kita saat ini.
Sebagian besar orang menghargai para leluhur mereka, karena adat-adat yang diturunkan dinilai baik dan berguna dimasa sekarang misalnya sasi. Bagi masyarakat Hulaliu mereka secara jelas mempercayai leluhur-nenek moyang mereka, percaya dalam arti meyakini akan keberadaan leluhur, bukan percaya dalam arti mengimani atau menyembah. Hal ini didasarkan pada pengalaman kehidupan yang dialami dari waktu-waktu secara nyata.
Dari sepenggal penjelasan diatas maka jelas bahwa leluhur atau nenek moyang bukanlah kaum yang tidak memiliki norma walaupun mereka atheis, tapi mereka adalah manusia yang sama-sama mengajarkan nilai-nilai baik bahkan sebelum mengenal Kekristenan.
Penghargaan kepada nenek moyang patutlah dimaklumi. Bukankah nenek moyang leluhurlah yang pertama-tama menerima Injil..? Bukanlah banyak tradisi dan adat yang sedangkan kita lanjutkan adalah bagian dari pergumulan panjang nenek moyang kita. Lihat saja pelaksanaan Pela Gandong yang relevan di masa sekarang.
Jika kita berbalik pada dasar kekristenan kita yakni Alkitab,.. maka jelaslah Allah pun menghargai nenek moyang bangsa Israel sehingga menyebut diriNya Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub yang menandakan peranan nenek moyang dalam karya penyelamatan Allah.

Aha’one……………. (Syalom)

KENANGAN DENG DIA

Hanya tinggal kenangan,deng hanya tinggal sejarah, beta seng bisa lia Ose lai… Ose seng bisa lia beta lai… Ose su pigi jau… jau… jau paskali. tinggal sejarah sondak deng se, tingggal sejarah kajadiang deng se, tinggal sejarah taong baru deng se. tapi bukan itu saja… beta rela mati ganti se asal jang orang bakar Ose,karena Ose su jadi beta pung pembakar semangat dalam medan tempur salamat jalan pelindungku. Sakarang su ada yang baru yang akan menciptakan kenangan baru deng sejarah baru deng beta, dia yang sakarang su paleng beta sayang. dia yang sakarang su paleng beta cinta. Biar beta seng pi manginte kacang di salolo, biar beta seng pi panira dadeso di wairiang, biar beta seng pi tipar mayang di amantawari asal for se tamange… beta pung suet ni seng for beta pung keluarga lai… ASAL FOR BANGONG ALE JUA.… tamange…waktu orang datang di rumah Biar Beta Makang Papeda Deng Aer Garam, Biar Minong Te Pagi Deng Aer Puti, deng biar isi tangan di sak Cuma saribu rupiah… tapi… beta sumbang akang for Ose tamang e. biar beta ni ARU-U,……. biar beta su BONGKO,.. biar beta su TUA tapi beta salalo bantu Ose. Sakarang Ose su mau jadi. beta seng tau ada orang yang sayang Ose sama beta ka seng, beta seng tau ada orang yang korbankan dong pung nyawa for Ose ka seng, beta seng tau ada orang yang korbankan dong pung harta for Ose ka seng, tapi for beta Ose segala-galanya karena satu saat Ose akan jadi beta pung tempat membentuk spiritualitas. Jang taku tamange biar orang laeng seng lia Ose tapi beta salalo ada for Ose mari betlehemku badiri kuat deng beta pung karingat mari Betlehemku badiri kuat deng beta pung aer mata.

MAS KAWIN DARI PEREMPUAN HULALIU

1. SATU KAYU KAIN PUTIH YANG BAIK
2. SATU KAIN PATOLA
3. SATU ULAR KAWAT
4. SATU PINGGANG BATU
( Dapat diganti dengan Uang )
Terbilang Lima Juta Rupiah.
5. SATU DULANG SIRI PINANG
(dapat diganti dengan gula-gula)
6. TEMBAKAU 6 LEMPENG (3 TEMBAKAU JAWA, 3 TEMBAKAU KUNING)
(dapat diganti dengan rokok)
7. SAGERU 3 TAMPAYANG (20 PLESKO)
SOPI 1 TEMPAYANG (6 PLESKO)
(dapat diganti dengan anggur)

Lirik "HENA MASA AMI"

Hena masa ami
Loto eri alaka o…
Puna isa ama rima hatu haha o…
Au olo ruma e .. eke rumah sigit o…
E paune ite kiberatu ira rolio…
Hena masa ami loto eri alaka o…

Tanita… e tanita e…
Maso-maso soki e tanita…
Kuru e… ume kuru-kuru e..
Kuru rai eke Hurariu…
Wele-wele kuria wele-wele o..
Rai parutu eke Haturessy o..
Noka Rakanyawa o…

Profil Ketua IPPHAR


Mersiana Sahureka, akrab dipanggil Mersy. Dilahirkan di Hulaliu pada tanggal 18 Nov 1979 dengan orang tua ayah Omang Sahureka,Alm dan Ibu Lien Noya/S. Anak ke-8 dari 9 bersaudara ini memulai studinya tahun 1985 di SD Neg 2 Hulaliu, selanjutnya tahun 1991 di SMP Neg Hulaliu dan taman tahun 1994 kemudian dia melanjutkan sekolah di SMA Neg 7 Ambon dan tamat tahun 1997. Pada Tahun 1997 terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pattimura Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan dan lulus tahun 2002 dengan menyandang gelar S.Hut (Sarjana Kehutanan). Sosok yang mempunyai hobby membaca ini aktif dalam organisasi di kampus seperti DPMF dan Silva serta GMKI. Cewek yang memiliki motto Hidup “Jesus is The Aswers’’ ini menapaki perjalanan hidup dengan Tujuan Hidupnya “ Road To Success and Happy with Jesus” memulai kiprahnya di IPPHAR pada tahun 2003 saat organisasi ini mandek akibat tragedy kemanusiaan yang menimpah bumi Maluku tahun 1999. Dia sebagai pengambil inisiatif hingga IPPHAR saat ini dan pada musyawarah besar IPPHAR di Latuhalat dia terpilih sebagai Bendahara umum periode 2003-2007. Dua tahun kiprahnya di IPPHAR terhenti karna di pada tahun 2007-2009 dia melanjutkan study stara dua (S2) di UGM Yogjakarta Fakultas Kehutanan Jurusan Manajemen Hutan bidang Pengelolaan dan Pengembangan Hutan Rakyat dengan menyandang gelas M.Sc (Master of Science). Dedikasi dan loyalitasnya terhadap IPPHAR sangat besar terbukti ketika tahun 2009 dia kembali dan atas inisiatifnya karena telah berakhirnya periode kepengurusan IPPHAR selama 6 tahun maka dilaksanakan Musyawarah IPPHAR pada bulan Maret dan dia terpilih sebagai Ketua IPPHAR periode 2009 -2013 dan atas prakarsanya tercetuslah Motto IPPHAR “Bertekoenlah Sampai Keachir.

Skripsi : PEMBERDAYAAN EKONOMI JEMAAT HULALIU

Oleh : Gusmon Sahureka, S.Si

KELUARGA DAN GEREJA
Keluarga adalah bagian yang terkecil dari suatu persekutuan jemaat dimana kerja guna meningkatkan kesejahteraan keluarga haruslah diupayakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan cara apapun yang penting adalah halal. Hal ini memberi arti bahwa, kehdiupan keluarga seutuhnya tergantung pada hasil kerja yang dikumpulkan. Dalam artian, jika yang dikumpulkan itu banyak maka pendapatannya banyak, dan apabila yang dikumpulkannya adalah sedikit maka pendapatannya sedikit pula. Dengan demikian keluarga haruslah bekerja dengan segala kelebihan dan talenta yang ia miliki, karena apabila tidak bekerja maka kesejahteraan keluarga terancam.
Fenomena keluarga-keluarga di jemaat GPM Hulaliu memperihatkan bahwa keluarga telah berada dalam suatu kehidupan yang tingkat kesejahteraan belum tercapai. Gereja sebagai lembaga spiritual jemaat mulai mengadakan pemberdayaan ekonomi yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup warga jemaat.
Jemaat tidak bisadibawah saja dalam pelayanan gereja yang spiritual saja seperti ibadah-ibadah. Ini bukan berarti ibadah itu tidaklah penting, tapi disamping itu harus sejalan dengan aspek lainnya yang turut membentuk kehidupan umat. Kecendrungan gereja memahami ibadah secara ritual saja, akan menyebabkan ketimpangan terhadap hakekat ibadah itu sendiri. Van Dop menyebutkan sebagai Celebration of life, perayaan kehidupan” atau lebih ditekankan pada kehidupan baru dalam Kristus, sehingga harus mengandung unsure-unsur, seperti : pertemuan jemaat, doa-penyembahan dan nyanyian, bersifat penggembalaan, peringatan bahwak kesaksian dan katekese, keseluruhan aspek ini harus diwujudkan
Pemberdayaan dan perlengkapan (Empowerment) diartikan sebagai penciptaan dan pengembangan situasi menang-menang (win to win) sehingga semua orang memiliki kemampuan dan kesempatan berkinerja, bermutu, berkreasi, berinovasi dan mengembangkan diri. Sangat benar bahwa pemberdayaan SDM merupakan tugas pekerjaan rumah gereja yang sangat mendesak untuk dilakukan. Ada kekuatiran muncul dalam hati jangan-jangan hanya tahu membicarakan tantangan globalisasi tapi tidak tahu atau tidak mau menyikapi dan menanganinya menjadi sebuah modal untuk pelayanan Gereja. Atau jangan-jangan kita hanya tahu bercerita, berbicara tentang pemberdayaan SDM di tetapi soal aktualisasinya tidak mau atau tidak mampu, jadi disini kita dituntut untuk lebih serius memikirkan dan merenungkan dan tentu saja melakukannya.
Gereja haruslah melakukan fungsi pemberdayaan. Banawiratma, melihat bahwa gereja harus menjatuhkan pilihan itu pada pemberdayaan umat yang transformatif demi memanusiakan manusia sebagai subjek yang mandiri dalam memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih manusiawi.
Terhadap tanggungjawab gereja dalam pemberdayaan umat, Hope Antobe mengusulkan bahwa gerja harus memiliki kerangka kerja yang dibangun secara praksis dalam pemberdayaan umat manusia yang meliputi : a. Study, langkah ini adalah untuk mempelajari faktor yang berkaitan dengan ketidakberdayaan yang dialami dan berkaitan dengan ketrampilan. b. Refleksi, langkah ini adalah menyoroti konteks dalam terang teks; c. Inspirasi, membuat implikasi mengenai aspek-aspek yang perlu dalm proses pemberdayaan; d. Eksperimentasi, menuangkan pendekatan, model, bentuk atau gagaasn solutif pemberayaan; e. Aksi membuat seluruh aksi-praksis dilapangan. Tahapan-tahapan ini berkesinambungan pada proses selanjutnya.
Gereja sebagai pelaksana pemberdayaan jemaat harus memiliki dasar yang kuat yang dapat dipertanggunjawabkan secara teologis sebagai respon atau jawaban terhadap tindakan Allah yang menyatakan diri kepada dan demi memberdayaan mansuia. Dasar itu adalah : Hidup, Gereja dan dirinya, karya Allah, dam tugas misioner.
Intervensi gereja dalam bidang sosial-ekonomi harus dilihat sebagai suatu panggilan, sebab dalam pemikiran ekonomi, harus dikembangkan sikap yang berpihak pada orang miskin, yang tersingkir dan tertindas. Dan sebaliknya dalam teologi eukonomia yang berpihak kepada mereka yang miskin, yang lemah dan yang tertindas harus merupakan suatu panggilan, suatu keharusan dan kehendak Tuhan. Nilai-nilai ekonomi yang dikembangkan berdasarkan nilai-nilai etis dan moral spritual Ilahi, yaitu telah menyatakan keberpihakan-Nya pada orang miskin.
Realitas keluarga di jemaat Hulaliu, memperlihatkan adanya sebuah bentuk kertergantungan yang tinggi terhadap sebuah upaya pemberdayaan dalam hal ini adalah gereja. Kepercayaan mereka bahwa gereja merupakan institusi yang baik dalam mengurus keuangan dan memberikan pelayanan yang baik menambah perilaku ketergantungan. Gereja harus memikirkan cara pemberdayaan kepada keluarga-keluarga dengan suatu cara yang lebih baik agar tidak terjadi ketergantungan pada modal usaha. Artinya pemberdayaan gereja harus mempunyai arah dan lebih transformatif. Dengan demikian pelayanan diakonia kualitatif yang dilakukan gereja berupa membarikan bantuan berupa uang haruslah bisa ditransformasikan kepada pelayanan diakonia yang transformatif. Dalam hal ini memberi dan membantu orang agar manusia dapat merubag dirinya sendiri. Dengan demikian dapat mengurangi ketergantungan kepada gereja.

GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS YANG MEMBERDAYAKAN
Gereja sebagai komunitas yang memberdayakan. Dengan dalih Gereja sebagai lembaga keagamaan tidak boleh memihak alias harus netral dalam masyarakat para pemimpin Gereja lantas tidak begitu peduli dengan masalah-masalah sosial yang bersifat politis.
Gereja sebagai Komunitas iman para murid Yesus Kristus politis yang lahir dari semangat spiritualitas Allah dalam Yesus Kristus seharusnya mengembangkan dirinya menjadi sebuah kekuatan sosial politis yang memberdayakan warga jemaat dan warga masyarakat.
Gereja pertama-tama dan bahkan harus ditegaskan di sini ialah peran sosial Gereja tidaklah sebagai upaya merebut kekuasaan ekonomi dan politik itu berada dalam tangan para pejabat Gereja atau orang-orang Kristen saja. Sebaliknya, peran sosial itu lebih merupakan upaya-upaya pendampingan yang memberdayakan warga jemaat dan warga masyarakat dengan jelas mendorong terbentuknya kekuatan-kekuatan komunitas basis resistensi yang mandiri baik secara ekonomi maupun secara politis berdasarkan potensi yang mereka miliki sendiri. Melalui komunitas-komunitas basis resistensi itulah diharapkan warga jemaat dan warga masyarakat dapat membangun semacam aliansi kehidupan bersama yang saling memberdayakan yang memampukan mereka mempengaruhi proses-proses pengambilan kebijakan publik, baik secara ekonomi dan politik, yang membuka peluang kepada orang-orang miskin dan tertindas memperoleh ruang untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia gambar Allah yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang mulia (bdk. Kej. 1:26-28 dan Maz. 8). Dengan jalan ini warga jemaat dan warga masyarakat yang sebagian besar rakyat masih hidup dengan tingkat pendapatan yang sangat memprihatinkan itu tidak menjadi korban janji-janji ekonomi dan politik.
• Kasih Yang Memberdayakan Memekarkan Kesadaran Emansipatoris
Dalam semangat missioner maka pelayanan sosial atau diakonia sosial bukan alat untuk meng-Kristen-kan orang lain yang telah menganut agama tertentu dan ataupun mereka yang belum menganut agama resmi apapun. Sebaliknya, pelayanan sosial atau diakonia sosial itu dimaksudkan sesama kita boleh mengalami kehadiran KRISTUS dalam hidupnya, sebuah kehadiran penuh kuasa yang memberdayakan. Dalam hal ini, pelayanan sosial atau diakonia sosial komunitas Kristen harus merupakan diakonia pemberdayaan secara structural.
KELUARGA DAN TEOLOGI PEMBERDAYAAN
Teologi pemberdayaan ialah refleksi teologis Kristiani yang mendorong proses transformasi sosial, baik secara ekonomi dan politik, yang bertitik-tolak dari potensi yang dimiliki orang-orang miskin dan tertindas itu sendiri. Dengan kata lain, teologi pemberdayaan adalah teologi yang membuat orang-orang miskin dan tertindas menemukan potensi-potensi emansipatoris yang terdapat dalam semangat hidup mereka sendiri, baik itu dalam bentuk semangat hidup kultural maupun semangat hidup religius mereka. Atau dapat juga dikatakan bahwa teologi pemberdayaan adalah teologi yang memampukan orang-orang miskin dan tertindas tidak silap dengan kemurahatian yang lahir dari kepribadian pedonor dan pendamping yang bermental posesif serta mampu mempertanyakan segala bentuk bantuan secara kristis bahkan mampu menolak bantuan itu kalau bantuan itu hanya akan memperpanjang penderitaan mereka.
Tentang teologi pemberdayaan dari gereja lebih mengena dekat dengan masyarakat dari pada teologi pembebasan di Amerika Latin-Asia dan/atau teologi pembangunan di Indonesia selama Orde Baru. Teologi pembebasan yang berkembang di Amerika Latin dan Asia, baik dalam bentuk teologi pembebasan Amerika Latin maupun teologi pembebasan Filipina, telah gagal membuat orang-orang miskin menjadi subyek dalam mengatasi masalah kemiskinan material yang mereka alami dan kekuasaan politik yang menindas mereka. Kegagalan yang sama, bahkan lebih parah lagi terjadi dengan teologi pembangunan di Indonesia sebagaimana digagas oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia di bawah pengaruh yang sangat dominan dari T.B. Simatupang. Kegagalan itu sangat terkait dengan cara bagaimana memandang orang-orang miskin sebagai subyek dalam sejarah hidup mereka.
Dalam teologi pembebasan dan teologi pembangunan ditekankan perlunya orang-orang miskin dibebaskan dari seluruh ikatan-ikatan yang dipandangnya mempermiskin dan menindas mereka. teologi seperti ini dan memandangnya sebagai teologi yang paling prospektif dalam upaya Gereja dan orang-orang yang berkehendak baik mengatasi masalah kemiskinan material dan kekuasaan politik yang menindas. Teologi pembebasan atau di Indonesia dalam bentuk teologi pembangunan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia itu juga memiliki kecenderungan mematikan “benih-benih emansipatoris” yang secara potensial hidup dan terhayati oleh orang-orang miskin dan tertindas, baik itu dalam bentuk semangat emansipatoris sebagaimana hidup dalam kesadaran kultural maupun semangat emansipatoris sebagaimana terhayati dalam iman dan kesadaran religius orang-orang miskin dan tertindas itu. Dengan kata lain, teologi pembebasan yang menekankan proses pembebasan dari secara tidak disadarinya cenderung mengabaikan “benih-benih emansipatoris” yang secara potensial dimiliki oleh orang-orang miskin dan tertindas itu. Dengan demikian secara tidak disadarinya teologi pembebasan seperti halnya teologi pembangunan di Indonesia memiliki potensi memperdaya (empowerless) orang-orang miskin dan tertindas. Sehingga tanpa dikehendakipun teologi pembebasan telah menyediakan pintu-masuk (entry point) bagi kekuatan ekonomi pelaku bisnis yang bermental narsistis dan para politik.
ALLAH YANG MEMBERDAYAKAN
Keyakinan teologis tentang Allah dalam Yesus Kristus sebagaimana dipelihara dalam tradisi iman Kristiani adalah Allah yang memberdayakan. Kuasa pemberdayaan Allah itu sangat nyata dalam narasi mengenai narasi penciptaan dalam Kejadian 1-2 dan Injil Yohanes mengenai rahasia inkarnasi Allah dalam Yohanis 1:14. Kedua narasi itu mengungkapkan tindakan penyelamatan yang bersifat memberdayakan.
Narasi penciptaan dan rahasia inkarnasi Allah sebagaimana disesinggung di atas. Sebenarnya apa yang kita baca dalam narasi penciptaan dan rahasia inkarnasi Allah adalah karya penyelamatan Allah yang memberdayakan. Kalau kita memperhatikan dengan teliti cerita penciptaan maka kita akan segera menyadari bahwa Allah menciptakan kehidupan ini (manusia dan makhluk hidup lainnya) Kejadian 1:1-25 ialah Allah justru memberdayakan segala sesuatu yang telah ada. Jadi, sebenarnya narasi Kejadian 1:1-25 memberi kesaksian mengenai politik Allah sebagai karya pemberdayaan.
Politik pemberdayaan Allah dalam rahasia inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus. Aspek komunikasi-personal yang diwujudkan dalam rahasia inkarnasi Allah itu adalah suatu aspek penting dari semangat dasar pemberdayaan. Politik pemberdayaan Allah dengan merujuk kepada inspirasi teologis inkarnasional ini. Kita bisa menambahkan contoh lain di sini tentang politik pemberdayaan Allah dalam Yesus Kristus itu sebagaimana dalam kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya (lihat Markus 1:16-20; Matius 4:18-22; Lukas 5:1-11). Cukup jelas di sini bahwa Yesus memanggil orang untuk menjadi murid-Nya dengan tidak menyangkal latar belakang mereka dan/atau apa yang menjadi potensi mereka.
Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan adalah juga contoh yang paling baik tentang semangat spiritualitas yang memberdayakan (bdk. Matius 6:30-44 dan kesejahteraannya). Yesus dalam kasus ini adalah suatu tindakan sosial yang bersifat pemberdayaan di tengah-tengah kekuasaan ekonomi dan politik dalam tangan mereka yang kehilangan kepekaan sosial yang memberdayakan dan nurani kemanusiaannya yang lebih dipengaruhi oleh semangat kemanusiaan yang posesif atau penuh pamrih.




AMA HATURESSY

Oh Haturessy Ama Patti Lounusa Ama Nahoka Rakanyawa
a-u pataru’ wa-amu samata wa’ pahanumu nala tihi potua

toturain yanain e.. pala apa ni melain waihokal e.. pa’sosa
pala hari pahanu aman
anapa au o-i heka lau herimu au panoe ale sorimu

Oh haturessy kupa mese-mese hatu haha ama malona e maela
Au paturu nala au mata tau aheri’sa nala tihi potua
….Terjemahan….
Oh Haturessy negeri raja himpun pulau negeri labuhan rakanyawa
Beta berjanji padamu selalu mau membangun sampai akhir masa

Tanjung yanain memanggil manggil, pohon nyiur waihokal mengingatkan
Minta pulang membangun negeri
Kalaupun kupergi jauh darimu aku ingat kau selalu

Oh Haturessy duduk di atas batu negeri lelaki yang keramat
Aku berjanji sampai aku mati takkan kulupa sampai akhir masa…
Oleh : Bpk . A . Laisina.

Doa Bapa Kami Dalam Bahasa Hulaliu

Amau’ka loto lanito
Kope nalamu
Um kayarani lai
Pasuka’um kawa’a, eke karasan
ahanau’u lanito
Koe wa’ ami potu ti, ami’m amanam.
Laha ampong ya’ ami ma poso ahia,
Sire lahai is puna ahia wa’ ami
Laha ehe’e peki ami eke poso soe laloi
Tapi kamusii ami eke malatutur
Karna Ale kayarano, laha’m kuasa
Kura kemuliaan, nalai mese-mese
Amin….

Terjemahan oleh Bpk Jopi . Laisina
Hulaliu, Maret 2010

profil Gusmon Sahureka

Palamana terakhir di Gereja Tua

Alamana
Naloi utun lesin upu lanit koe ijin wa’iteka upu ama-a is pamahanu kabatine
Jemaat
Naloi utun lesin to uma upu lanit i paturu’ hatai laha i repa’ke au ewe kakui’a lo-omi
Alamana
Naloi utun lesin wa’anai tine eke-em kaba laloi tine, ke-e i wele ini firman to wa’ tine panonol keselamatan i paturu-el , i kitika laha ite nukuka iman
Jemaat
Am sopakoku nalamu samata, ite ko-a laha hiti syukur wa-amu kawa’ upu lanit palau; jamaat laha ama Haturessy alat tine.
Alamana
Nam wahi’ alem kuasa laha alem ma-ini wa’ ite lo-oka upu ana’ aman tine laha tine lo-o mansia eke’ tapele laloi tine.
Jemaat
Am ewe eke’ aman tine, am ewe eke’ Negara tine am ewe he’ti kura hatua isa-i, Am upu ana aman ti am paturu’ wa’ pamahanu aman tine.
Alamana
Anapo taha matuan wa’I pamahanu’ kaba ti,
Jemaat
Kaba ti am pahanur lae-e
Alamana + Jemaat
: Kalo ahto nau’ hatuaka laloi ti upu lanito, le wahi’ke iteka lalan ฤ™ oke’ke ฤ™ maturu hasuim lalano, laha peki ami hasuim lalan manisa-i.
\

IPPHAR DALAM TAHUN 2009

18 Januari : Ibadah Perdana Di ketua IPPHAR
8 Maret : Ibadah Pantai Di Suli
29 Maret : Pemilihan Pengurus Ipphar Baru
1 April : Pelantikan Pengurus IPPHAR
5 April : Sukacita Bersama Anggota Sidi Gereja di Ambon
8 April : Pelatihan Sablon dan kegiatan sablon kaos Haturessy Anai
10 April : Sukacita bersama Anggota Sidi Baru Di jemaat Hulaliu
11 April : Pembagian Minyak Tanah untuk Pawai paskah
12 April : Paskah bersama SMTPI Remaja di Jemaat Hulaliu
Pembagian Alkitab Bingkisan Paskah
3 Mei : Raker IPPHAR
18 Juni : HUT IPPHAR
19 Juli : Kerja Bakti di Lokasi Gedung Gereja Baru
9 Agustus : Ibadah Koinonia IPPHAR dan PPPKA (Kamarian Amalatu)
13 September : Pelantikan Panitia Natal
20 September : Pembersihan Asari Lounusa Haturessy Rakanyawa
20 September : Tarik tambang meramaikan HUT GPM di Jemaat Hulaliu
15 Desember : Pembagian kaos IPPHAR
28 Desember : Pelaksanaan Natal IPPHAR
28 Desember : Pemutaran Film 2012 layar lebar untuk jemaat dan masyarakat Hulaliu
31 Desember : Multimedia untuk Malam Kunci Taong

HATUHAHA AMARIMA LOUNUSA

Karya : Auti Po

nene yau sui, yapa nene yau sui
yapa nene yau sui wa'a lo'okaeya
nene yau sui wa'a lo'okaeya amarima lounusa

nunu lau malaka, nunu lau malaka
nunu lau malaka lau mauno
nunu lau malaka lau maunea
lete yasai lounusa

sana isya'e kita lei timuro, latua ronesina
sana isya'e kita lei halato, monia makakuku
sana isya'e pakoti leamatai, pikai hehe laisina

siriya upasiri-siri
sanaru pasanaheu
karya sina surinai
karya sina surinai ratua
malei roa lounusa asalo
sala awale jadi

malei eta walepitua maningkamu
eta maningkamu hatuhahai eya
eta maningkamu hatuhahai suwe guruasyi janji

gurua syi mata syatataru eyao
maningkamu ehe punale ahiya
seiya puna mani wa'a jahelo
lauworiya kupu susah


Translation:

LIMA NEGERI HATUHAHA
Karya : Some One

dengarlah wahai masyarakat hatuhaha
inilah sejarah lima negeri hatuhaha

kebesaran hatuhaha dilambangkan dengan sebuah pohon beringin
satu cabangnya menuju arah timur,
yaitu laturonesina (pelauw)
satu cabang lagi ke arah barat
monia makakuku (rohomoni)
dan satu cabang lagi sejajar arah matahari
pikai hehe laisina (hulaliu)
dua cabang yang lain,
karya sina surinai (kailolo dan kabau)

hatuhaha terikat kokoh dan rapi
ikatan tali persaudaraan hatuhaha
marilah kita eratkan, kita jaga
dan kita pelihara tali kerahiman ini
sesuai janji moyang-moyang hatuhaha

terbersit janji untuk selalu menjaga persaudaraan ini
jangan sampai terabaikan
siapa yang menghancurkan ikatan ini,
akan mendapat kesusahan
\

Hari Baru

Kicau Burung memuji namaMu
Debur ombak sanjungkan kasihMu
Menyambut hari baru yang penuh sukacita...

Langkah hidup ini kami jalani
Seiring waktu yang terus berputar
Banyak sudah yang kami lalui,
bersamaMu Yesus, Tuhan yang ajaib.

Saat topan dunia menghantam kras
Kau nahkoda armada kehidupan
Dan hariini kami tlah sampailah
Di hari baru pemberianMu oh..Tuhan!!


Reef:
Kicau Burung memuji namaMu
Debur ombak sanjungkan kasihMu
Menyambut hari baru yang penuh sukacita...
Kami bersyukur akan berkatMu
Kami berharap akan KasihMu
Tuntunlah langkah hidup kami ya Tuhan
Tuk melewati, Hari yang baru ini!!!


Lyrics and Arr By : Malfz Laisina VG:IPPHAR-AMBON

NATAL DENG PAPEDA SABALE

Katanya cinta meramas kasbi
Pancangkan kain di kuda-kuda
Tabaos cinta panggil anak negeri
Lihat mama meramas kasbi
Dengar suara rindu gadis sebelah rumah
Teriakan lapar tangisan dahagA
Dan suara himpitan kerongkongan kering
Bunyi perut berirama tifa pica


Katanya cinta membakar sukma
Lalu mama naikkan syukur siang
Singgahsana Allah memutih bagaikan toya
Panci tumpah ruah gelombang air panas
Sempe diramaikan jari yang me-lomi toya
Aru-aru menentramkan perut tertabu
Sukacita hadir siang malam dirumah tua

“Tuhan berkatilah makanan kami”
doa ini terdengar indah
karena papeda sabale akan datang
Tuhan…… nikmatnya kuah lemon.
Yang teruras bagaikan anggur hermon
Dijilati lidah penikmat bungaran
Pernahkah kau cicipi Tuhan…..?????

“Tuhan inilah makanan kami yang Kau beri
makanan natal orang pinggiran
yang hanya bisa mengolah kasbi
makanan natal anak negeri
yang susah beras secupak
dan cuma ada ikan meti

“ Tuhan………. Trima kasih atas berkatMu”
doa itu begitu syahdu
karena hati hampir menangis
adakah ganti dinatal mendatang..?
akankah meja makan diramaikan tabuhan sendok..?
ataukah jari tetap memercik kuah..?
dari mana sejahtera..?
dari mana kekenyangan..?
DARI PAPEDA SABALE
UNTUK NATAL INI

Karya : Elifas Maspaitella
Gubahan : Gusmon Sahureka


Budayakan Bahasa Daerah

Rutinitas pagi ini sama seperti pagi yg lain dan salah satu bagian dr rutinitas pagi adalah baca email.

Ada satu email yg berkesan buat saya yaitu email dr komunitas pemuda kampung saya IPPHAR (Ikatan Pemuda Pelajar Haturesy Rakanyawa) yang berisi tentang sebuah himbauan positif yang intinya berupa "ajakan" agar kita terus membudayakan bahasa daerah HULALIU (nama kampung saya) mulai dari sapaan yg paling gampang seperti "aha one??" atau apa kabar.

Saya sangat tertantang, tapi hal ini menjadi sulit buat saya karna yg saya tahu dari bahasa Hulaliu cuma aha one?.

Saya bangga dan senang membaca himbauan tersebut, dimasa dimana semua orang mulai berlomba-lomba mempelajari dan menguasai bahasa asing segilintir anak muda masih peduli dengan bahasa daerah dan berusaha untuk melestarikannya dan menularkannya kepada pemuda-pemuda lain.

Hulaliu adalah bagian tak terlepas dari ayah-ibu saya demikian jg saya.
Catatan Belisiama Gracia 'gNo'

Mengenal Bpk Nelis Noya



Cornelis Noya, lahir 27 Juli 1934 di Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dari pasangan Petrus Noya dan Antomina Taihuttu,
Pada usia 7 tahun Beliau mengikuti pendidikan bahasa Jepang di Hutan Ruatalai suatu dusun di petuanan Hulaliu karena pada saat itu kondisi belum aman, gurunya adalah Bastian Birahy dan Salah satu guru berkebangsaan Jepang yakni Ike Maru. Tahun 1943 beliau masuk SR di Hulaliu, saat di SR ia harus merubah tahun lahir menjadi 27 Juli 1947 agar umur lebih muda dan dapat mengikuti ujian SR, karena kalau tidak demikian maka akan dikeluargkanb dari sekolah. Beliau melanjutkan studi ke SMP negeri pelau, hingga kelas 3 SMP ia memutuskan untuk keluar dari sekolah untuk merantau di Ambon…
Cornelis Noya saat pindah ke Ambon, tinggal dengan Bpk Demi Noya, yang adalah komandan Militer Kota / KMK (Sekarang KODIM), bersama Demi Noya selalu membawa beliau hingga aktif dalam proses kampanye Bpk Muhamad Padang Calon Gubernur Maluku saat itu. Karena aktif di daerah asrama militer maka ia juga bersama-sama dengan Silas Papare yang berjuang untuk Irian Barat masuk ke NKRI dan melakukan beberapa kali perjalanan yakni ke Wahai hingga Misol.
Setelah Tahun 1965 beliau kembali ke Hulaliu dan tergabung dalam OPR (organisasi Pertahanan Rakyat) OPR diberikan senjata 6 pucuk untuk 12 orang anggotanya dengan tujuan membasmi sisa-sia RMS di Pulau Haruku dan untuk menyelamatkan negeri hulaliu dari siksaan Polisi dan Brimob. Anggota OPR diantaranya adalah : Johanies Sedubun, Jakob Sedubun, Adrianus Laisina, Pattihua Hatalaibessy, Ferdinand Noya, Abraham Taihuttu, dll. OPR berhasil menangkap beberapa orang RMS dan diserahkan ke Brimob yang saat itu komandannya adalah Chr Tahapary.
Setelah keamanan terwujud OPR di bubarkan, menikahi Naomi Birahy dan tahun 1969 di calonkan menjadi KADES, namun tidak lolos dan menjadi Wakil untuk kades Frets Matulessy, kemudian periode berikut juga menjadi wakil untuk kades Nataniel Taihuttu, Wakil mendampingi Kades Buce Taihuttu, Wakil mendampingi kades Dominggus Noya, Wakil mendampingi Raja Robby Laisina (Almarhum) saat inilah perda tentang pemerintahan adat. Karena beliau mendampingi 5 kepala desa sejak tahun 1969-2003, maka warga Hulaliu menyebutnya “BAPAK NELES WAKIL”. Tidak hanya itu Selama menjabat wakil kepala desa beliau juga menjabat sebagai kepala Soa Noya sejak tahun 1979-2003, yang kemudian diganti oleh Wellem Noija hingga sekarang.
Cornelis Noya memiliki 1 isteri Naomi Birahy, dan 7 orang anak : Petrus Noya, Hanna Noya, Theopilus Noya, Lebrina, Jakobis Noya, Martinus Noya, dan telah memiliki 13 cucu.
Hingga kini Cornelis Noya tetap berdiam di Hulaliu sebagai tokoh adat sehingga banyak memberikan kontribusi terhadap sejarah dan adat Hulaliu kepada Masyarakat negeri Hulaliu, dan juga kepada peneliti sejarah.

Ekslusif Oleh Mon Sahureka
Hulaliu, 21 September 2009

DEKLARASI ADAT 7 GANDONG

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kami Raja-Raja 7 (Tujuh) negeri basudara gandong “SILATUPATIH dan 8 (delapan) Kepala Desa SIRATU YAMA WALLU atas nama masyarakat dengan ini menyatakan :
1. Kami Tujuh negeri “Assilulu, Paperu, Hulaliu, Tulehu, Sila, Tial, dan Laimu” adalah “Basudara Gandong”
2. Panas Gandong perlu dilestarikan sepanjang masa
3. Sepakat membentuk wadah basudara gandong dengan nama “SILATUPATIH dan SIRATU YAMA WALLU”
Semoga Tuhan Maha Kuasa Merahmati Kesepakatan Ini.
Assilulu, 15 April 2008



Kemegahan Terakhir